Rabu, 25 Mei 2016

TOPENG BLANTEK DI KAMPUNG BETAWI

(STUDI KASUS: SANGGAR SENI “FAJAR IBNU SENA” CILEDUG) SKRIPSI Fakultas Adab dan Humaniora Dengan Gelar Sarjana Humaniora (S. Hum) An. HAMMATUN AHLAZZIKRIYAH NIM. 1111022000008 KONSENTRASI ASIA TENGGARA PROGRAM STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H/ 2016 M

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masyarakat Betawi pada awalnya campuran dari orang Sunda. Sebelum abad ke-16 pada masa kerajaan Tarumanegara serta Pakuan panjajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai Pulau Indonesia, dari Malaka di Semananjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat. Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol1 yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi sebenarnya berasal dari kata “Batavia” yaitu nama Jakarta yang diberikan oleh Belanda. Masyarakat Betawi merupakan suatu kelompok masyarakat dengan identitas etnis dan budaya yang terbentuk berdasarkan perpaduan beberapa suku bangsa dengan budaya dan adat istiadat yang berbeda. Dari masa ke masa masyarakat Betawi terus berkembang dengan ciri budaya yang kian hari kian mapan sehingga mudah dibedakan dengan kelompok etnis lain. Untuk 1Beberapa perbedaan kosa kata bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Indonesia dalam teks ilmiah, Bahasa Melayu sudah lama dikenal sebagai bahasa antarsuku bangsa khususnya di Indonesia. Dalam perkembangannya terutama kawasan-kawasan berpenduduk bukan Melayu dan mempunyai bahasa masing-masing, bahasa Melayu mengalami proses pidginisasi dengan berbaurnya berbagai unsur bahasa setempat ke dalam bahasa Melayu dan karena dituturkan oleh anak-anaknya, bahasa Melayu mengalami proses Kreolisasi. Bahasa Melayu, khususnya di Indonesia Timur diperkenalkan pula oleh para misionaris asal Belanda untuk kepentingan penyebaran agama Kristen. Di pulau Jawa, terutama di Jakarta, bahasa Melayu mengalami proses kreolisasi yang unsur dasar. bahasa Melayu Pasartercampur dengan berbagai bahasa disekelilingnya, khususnya bahasa Tionghoa, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Bali,bahasa Bugis, bahkan unsur bahasa Belanda dan bahasa Portugis. Melayu dalam bentuk kreol ini banyak dijumpai di Kawasan Indonesia Timur yang terbentang dari Manado hingga Papua.

Kepercayaan masyarakat betawi sebagian besar menganut agama Islam, Islam memang sejak lama telah mewarnai kehidupan penduduk Batavia. Ada tiga fase yang menunjukkan eksistensi Islam di Batavia, pertama saat Sunda Kelapa berhasil ditaklukkan oleh Fatahillah. Pada fase itu seluruh kehidupan sosial, ekonomi, politik di Jayakarta didasari pada ajaran Islam dan mendapat pengawasan langsung dari Kesultanan Cirebon.2 tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara. Kedua, sejak banyaknya masjid dan pusat-pusat kegiatan Islam yang didirikan pada abad ke 18.3 Selain menggambarkan perkembangan Islam di Batavia, masjid-masjid itu juga menggambarkan adanya percampuran berbagai kelompok etnis yang menjadi landasan bagi munculnya kelompok etnis baru yang
kemudian mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Islam di Batavia.

(Muhammad ZafarIqbal, Islam di Jakarta Studi Sejarah Islam dan Budaya Betawi, (Jakarta : Disertasi Program PascaSarjanaIAIN, tidak diterbitkan 2002), h.iii. 3 Abdul Azis, Islam dan Masyarakat Betawi, Jakarta: LP3S, 2002, h.45. 4Masjid pertama yang didirikan adalah Masjid Al-mansur di Kampung Sawah, Jembatan Lima pada tahun 1777, lalu Masjid Pekojan yang didirikan di Perkampungan Arab pada tahun 1755, pada tahun 1761 berdiri Masid Kampung Angke di perkampungan orang-orang bali tinggal)

Masjid-masjid tua di Jakarta banyak bangunan arsitekturnya dibuat oleh berbagai kelompok etnis dan bangsa. Arsitektur bangunan masjid mengadopsi tiga kebudayaan, yakni Betawi, Cina dan Hindu Jawa. Ketiga, semakin populernya penggunaan bahasa melayu Betawi pada abad ke 19, yang disebabkan karena menghilangnya pengaruh bahasa Portugis Mardijker. Sepertinya penggunaan bahasa melayu betawi ini berkaitan erat dengan proses Islamisasi orang Betawi. Mereka bukan saja menggunakan bahasa melayu menjadi bahasa komunikasi sehari-hari masyarakat Betawi, akan tetapi mereka telah mengadopsi Islam sebagai pandangan hidup. Terkait dengan kebudayaan Betawi dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, musik ini masuk keindonesia pada abad ke-17.7 Di Jakarta, musik ini sangat digemari oleh masyarakat Tugu di Jakarta Utara. Jenis musik ini lah yang menjadi cikal bakal Keroncong asli Betawi.Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, dan Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Topeng Betawi, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaanBetawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macamkemudian masjid Kebon Jeruk yang didirikan oleh peranakan Cina Islam tahun 1786, dan masjid yang didirikan orang-orang Banda di Kampung Banda tahun 1789.

(Anwarudin Harapan, Sejarah, Sastra, dan Budaya Betawi, Jakarta, APPM, 2006, Hal. 57 Catatan seorang pelancong dari Surakarta Raden Arya Sastradarma yang menuliskanpengalamannya selama di Batavia pada tahun 1870 dalam buku berjudul “Kawontenan Ing NagariBatawi”. Ia menemukan bahwa penduduk umumnya berbahasa melayu dalam percakapan sehariharidan mereka menyebut dirinya dengan sebutan orang Islam. Emot Rahmat Taendiftia et. al, Gado-Gado Betawi : Masyrakat Betawi dan RagamBudayanya, Jakarta: Grasindo, 1996. Hal 21)

Kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki bermacam-macam seni, selain seni musik ada juga drama rakyat , beberapa bentuk drama rakyat Betawi yang masih hidup sampai sekarang ialah Wayang Golek, Lenong, Topeng Betawi, dan sebagainya. Tujuan dari drama rakyat itu selain menghibur juga untuk melahirkan ekspresi dan aspriasi kolektif yang sesuai dengan system nilai budaya para pedukungnya. Karena itu tidak jarang dalam pementasan drama rakyat terdapat kebobrokan moral dalam rumah tangga dan masyarakat melalui adegan-adegan yang di pentaskan. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Sehingga banyak menciptakan sebuah seni yang berbagai macam asal campuran dari berbagai etnis dan bangsa dahulunya. 

Rafael Raga menjelaskan bahwa “Seni budaya merupakan hasil dan sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang maupun kelompok dan nantinya menjadi ciri khasnya kelompok tersebut. Dalam hal ini kelompok yang dimaksud adalah komunitas etnis masyarakat Betawi.”  

Dan Topeng Blantek, diakui menjadi cikal bakal dari kesenian budaya betawi seperti gambang kromong, samrah, lenong dan lain sebagainya. Tapi, minimnya dukungan pemerintah dan sepinya kegiatan pertunjukkan membuat kesenian Topeng Blantek nyaris tak populer lagi dimasyarakat. Topeng Blantek merupakan teater rakyat Betawi yang kini hampir tidak dikenal masyarakat luas. Hanya sebagian masyarakat Betawi yang mengetahui teater rakyat Topeng Blantek. Banyak pula artikel dan pendapat-pendapat yang berbeda tentang Topeng Blantek, bahkan terdapat perbedaan pendapat tentang definisi dan sejarah singkat Topeng Blantek. Asal-usul nama kesenian ini berasal dari dua kata, yaitu Topeng dan Blantek. Istilah Topeng berasal dari bahasa Cina di zaman Dinasti Ming. Topeng asal kata dari To dan Peng. To artinya sandi dan Peng artinya wara. Oleh karena itu, Topeng bila dijabarkan berarti sandiwara. Sedangkan untuk kata Blantek ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari bunyi-bunyian musik yang mengiringinya. Yaitu satu rebana biang, dua rebana anak dan satu kecrek yang menghasilkan bunyi, „blang-blang tek-tek

Namun, karena lidah lokal ingin enaknya saja dalam penyebutan, maka muncullah istilah Blantek. Pendapat lainnya mengatakan, asal nama Blantek berasal dari bahasa Inggris, yaitu blindtext yang berarti buta naskah. Menurut Nasir Mupid seniman Topeng Blantek Fajar Ibnu Sena Pesanggrahan, Jakarta Selatan bahwa Topeng Blantek merupakan induk dari teater rakyat Betawi, karena Topeng Blantek memiliki apresiasi seni yang terdapat di teater rakyat Betawi lainnya. Misalnya seni tari, seni musik, dan drama. Asal mula Topeng Blantek menjadi sebuah pertunjukan berawal dari para pedagang di jajaran wilayah Jakarta di mana terdapat suku Betawi. Para pedagang tersebut yang memperjualkan dagangannya melalui celoteh-celoteh (kata-kata). Dan tutur kata yang diucapkannya itu, kemudian menjadi sebuah pertunjukan. Pedagang-pedagang tersebut kebanyakan berasal dan kalangan ahli agama Islam yang akhirnya mempergunakan Topeng Blantek sebagai penyebaran agama Islam dan dakwah-dakwah kepada masyarakat. 

Marhasan, tokoh pelestari Topeng Blantek Pangker Group Semanan, Jakarta Barat mengatakan bahwa permainan Blantek dahulu kala tidak memakai naskah dan sutradara hanya memberikan gagasan-gagasan garis besar dari cerita yang akan dimainkan” Masih menurut keterangan Marhasan; surutnya kesenian Pertunjukan Topeng Blantek juga dikarenakan adanya kesenian-kesenian tradisional Betawi lainnya seperti lenong, topeng Betawi, samrah, gambang kromong dan lain sebagainya. Walau begitu, sebetulnya Topeng Blantek ini sempat berusaha dimunculkan kembali oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1972. Kesenian ini dikembangkan dan ditampilkan ke depan publik oleh Ras Barkah.majunya budaya suatu bangsa dapat dipastikan majunya bangsa itu, salah satu elemen penting penunjang budaya adalah tumbuh kembangnya kesenian. Dengan kata lain, menghidupkan seni, memajukan bangsa. Kita Sebagai anak bangsa mempunyai kewajiban untuk terus eksis dalam berkesenian demi mempertahankan dan menembangkan kesenian Betawi, khususnya Topeng Blantek salah satu seni teater rakyat Betawi. Tentunya kita semua harus lebih peduli dengan kelestarian budaya sendiri. Hanya saja, kondisi kesenian Topeng Blantek kian mengkhawatirkan, terutama sepeninggal Ras Barkah pada tahun 2007. 

Upaya melestarikan Topeng Blantek mulai terkendala modal dan sulitnya mencari generasi penerus serta diperparah dengan tak adanya perhatian dari pemerintah untuk turut melestarikan kesenian Topeng Blantek. Akibatnya, satu-persatu sanggar-sanggar tersebut berguguran. Hingga saat ini untuk wilayah Jakarta Barat saja hanya tersisa empat sanggar.  Keempat sanggar tersebut pun dalam keadaan yang tidak begitu bagus; dua di antaranya nyaris bubar, sementara dua lainnya, yaitu Panker Group dan Ibnu Sina relayif masih berlatih secara rutin. Oleh karena itu, penulis mengangkat tema “Topeng Blantek di Kampung Betawi“ dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang Seni Pertunjukan Topeng Blantek dengan harapan agar kesenian ini tidak terus mengalami kemunduran hingga kepunahan Sebab menurut penulis, Seni Pertunjukan Topeng Blantek ini sangat menarik sebagai media dakwah atau penyebaran agama Islam, didalam lakon para pemainnya terdapat unsur atau nilai-nilai keislaman dan menyinggung masalah sosial yang ada. Dengan studi kasus Pertunjukan Topeng Sanggar Seni Blantek Fajar Ibnu Sena Pimpinan Nasir, di Jl. Ciledug Raya Ulujami Pesanggrahan Jakarta Selatan, Sanggar Seni ini didirikan pada tahun 1983. penulis mencoba mencari informasi yang berkaitan dengan Seni Pertunjukan Topeng Blantek khususnya pada saat Ras Barkah dan keeksisannya kesenian Topeng Blantek dibawah naungan Sanggar Fajar Ibnu Sena.


(Anwarudin Harapan, Sejarah, Sastra, dan Budaya Betawi, Jakarta, APPM, 2006, Hal.135-1369 Rafael Raga Maran, ManusiadanKebudayaanDalamPersfektifIlmuBudayaDasar, Jakarta,RinekaCipta, 2007, Hal 103)

(Abdul aziz, Teater Seni Pertunjukan Betawi diambil dari http://Poskobudayaswadarma.blog.com/teater/diakses pada 28-12-2014 15:37)

(Ungkapan dariNasir Mupid di jurnal : jurnalsenibudayajakarta.blogspot.com/2013/10/apresiasi-seni-budaya-topengblantek. html(diakses pada diakses pada 28-12-2014 15:37) 12 Dikutip dari berita jakarta : (http://www.beritajakarta.com, 2008.2-2-2012). Diakses pada 28-12-2014 15:37)


TOPENG BLANTEK DI KAMPUNG BETAWI

(STUDI KASUS: SANGGAR SENI “FAJAR IBNU SENA” CILEDUG) SKRIPSI Fakultas Adab dan Humaniora Dengan Gelar Sarjana Humaniora (S. Hum) An. HAMMATUN AHLAZZIKRIYAH NIM. 1111022000008 KONSENTRASI ASIA TENGGARA PROGRAM STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H/ 2016 M 

DAFTAR ISI

ABSTRAK ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... v

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah................................................................... 1

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah .................................................................. 8
2. Pembatasan Masalah ................................................................. 8
3. Perumusan Masalah.................................................................... 9

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................................ 10
D. Tinjauan Pustaka .............................................................................. 10
E. Metode Penelitian dan Landasan Teori............................................ 12
F. Sistematika Penulisan ..................................................................... 15

BAB II. ASAL-USUL MASYARAKAT BETAWI

A. Asal-Usul Kata Betawi dan Sejarahnya Suku Betawi

1. Asal Usul Kata Betawi ............................................................... 17
2. Sejarah Asal Usul Betawi ........................................................... 19

B. Masyarakat Betawi dan Letak Geografisnya

1. Masyarakat Betawi ..................................................................... 22
2. Geografis Masyarakat Betawi .................................................... 24
3. Bahasa Masyrakat Betawi .......................................................... 29
4. Mata Pencarian Masyarakat Betawi .......................................... 33

C. Islam dan Kebudayaan Betawi

1. Proses Islamisasi di Masyarakat Betawi .................................... 33
2. Kebudayaan Masyarakat Betawi. ............................................... 39

BAB III. SENI TOPENG BLANTEK

A. Pengertian Topeng dan Blantek ....................................................... 45
B. Sejarah Topeng Bantlek ................................................................... 49
C. Nilai-Nilai Topeng Blantek Sebagai Media Untuk Masyarakat .... 54

1. Peranan Topeng Blantek Sebagai Media Sosial......................... 55
2. Peranan Topeng Blantek Sebagai Media Pendidikan ................ 57
3. Peranan Topeng Blantek Sebagai Media Dakwah ..................... 60
4. Peranan Topeng Blantek Sebagai Media Hiburan ..................... 62

BAB IV. SANGGAR SENI FAJAR IBNU SENA CILEDUG

A. Sejarah Berdirinya Sanggar Fajar Ibnu Sena………………..…… 65
B. Peran Tokoh Ras Barkah Dalam Mengembangkan Seni Topeng Blantek ..... 69
C. Pertunjukan Seni Topeng Blantek................................................... 73
D. Kondisi perkembangan Seni Topeng Blantek saat sekarang……. 83

BAB V . PENUTUP

A. Kesimpulan ...................................................................................... 92
B. Saran-saran....................................................................................... 95

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Topeng Blantek Di Kampung Betawi

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberika petunjuk dan semua kasih sayangNya sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, berserta pada keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Alhamdulillah akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari bahwasannya skripsi yang berjudul “Topeng Blantek Di Kampung Betawi (Studi Kasus: Sanggar Fajar Ibnu Sena Ciledug)” ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari semua pihak dalam baik dukungan moril maupun materil. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada :

1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Prof. Dr. Sukron Kamil, MA, selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. H. Nurhasan, MA, selaku Ketua Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Solikhatus Sa’diyah, M.Pd, selaku Sekeretaris Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam yang dengan sabar memberikan pelayanan terkait administrasi yang penulis butuhkan.

5. Ibu Hj. Tatik Hartimah, M.A penasehat akademik penulis yang telah memberikan dukungan serta doa kepada penulis. Terimakasih untuk waktu yang telah diluangkan di tengah kesibukannya tetap memberikan dukungan untuk waktu yang telah diluangkan ditengah kesibukannya tetap memberikan dukungan untuk penulis agar menyelesaikan skripsi ini.

6. Drs. H. Syamsuddin Dasan, M. ag, selaku dosen pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik, yang dengan sabar memberikan arahan, kritik dan saran, terutama kesediaan waktunya dalam membimbing,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik 

7. Bapak dan ibu dosen yang tak bisa saya sebutkan namanya satu persatu terima kasih atas semua ilmu yang diberikan.

8. Karyawan/karyawati Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora yang telah memberikan pelayanan dan menyediakan fasilitas dalam penulisan skrispi ini.

9. Orang Tua tercinta, Ayahanda Kamus Marbawi, Spd. dan ibunda Rohati selaku kedua orang tua penulis serta Bunda Rusdah pengasuh dari kecil sampai sekarang. Terima kasih atas segala kasih sayang, pengertian, doa dan semangat kepada penulis serta memberikan dukungan dan pengorbanan baik secara moril maupun materil sehingga penulis dapat menyeselesaikan studi dengan baik. Terima kasih kuucapkan dari lubuk hati yang amat dalam, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dan kebahagiaan selalu.

10. Adik-adik tercinta, Tika Febi Siami dan Muhammad Fathir Asy-sauqoni dan Abang tersayang, Fitrah Faruqi Aksyar,spd. yang selalu memberikan semangat dan doa. 

11. Sahabat-sahabatku tersayang Eva Khofifah, Ilham Rosyadi, khoirunnisa, Siti Nurazizah, Wira Kurnia, Damar Setiyawan, dan Vera Melani thank you for everything. Thank you for accept me. Thank you for always there for me. Thank you for the time you give me. You guys are my friends, my relatives, and my family.

12. Teman-teman seperjuangan di ASTENG 2011 yang rame dan selalu penuh didalam kelas yang saling memotivasi dan menjadi tempat diskusi mengenai permasalahan dalam penulisan, semoga kita semua sukses
selalu.

13. Teman-teman SKI seperjuangan angkatan 2011 terimakasih atas motivasi dan kerjasamanya, yang telah memberikan arahan dalam penulisan dan motivasi.

14. Kepada seluruh pengurus Sanggar Fajar Ibnu Sena, yang selalu meluangkan waktu dan membantu penulis dalam mendapatkan berbagai sumber, informasi dan lain hal terkait dengan Topeng Blantek, penulis
ucapkan terimakasih.

Semoga Allah SWT selalu membalas segala amal baik kepada pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi lebih baiknya skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Jakarta, 22 Januari 2016
Hammatun Ahlazzikriyah

TOPENG BLANTEK DI KAMPUNG BETAWI

(STUDI KASUS: SANGGAR SENI “FAJAR IBNU SENA” CILEDUG) SKRIPSI Fakultas Adab dan Humaniora Dengan Gelar Sarjana Humaniora (S. Hum) An. HAMMATUN AHLAZZIKRIYAH NIM. 1111022000008

KONSENTRASI ASIA TENGGARA PROGRAM STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H/ 2016 M

ABSTRAK

Seiring dengan perkembangan zaman, Kebudayaan masyarakat Betawi khususnya Seni Topeng Blantek dewasa ini semakin mengalami kemunduran.Sangat disayangkan bahwa Topeng Blantek ini yang penuh akan makna sosial dan nilai islami mulai hilang di masyarakat.Dilihat dari permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai latar belakang serta sejarah Seni Budaya Topeng Blantek yang dimulai pada sejarah masyarakat betawi muslim, beberapa pendapat mengenai asal mula topeng blantek, hingga permasalahan Seni Pertunjukkan Topeng Blantek dari era Ras Barkah hingga pada sepeninggalnya Ras Barkah dengan studi kasus Sanggar Fajar Ibnu Sena. 

Dalam penelitian ini, penulis lebih condong menggunakan metode penelitian deskriptif analitis, dengan pendekatan sosio-budaya untuk merekontrusksi peristiwa masa lampau yang bersifat komperhensif serta teori Disseminasi, yaitu teori tentang pengaruh agama terhadap bagian dari produkproduk kebudayaan seperti seni pertunjukan, musik dan seni tari. Dalam penulisan ini penulis menemukan selain sebagai hiburan adanya unsur unsur media dakwah di dalam pentas pertunjukan seni Topeng Blantek yang dapat memberi pencerahan untuk para masyrakat (penonton) sehingga sangat kental unsur Islam di pertunjukan Seni Topeng Blantek.

Kata kunci : Sejarah Betawi, Budaya Topeng Blantek, Media Dakwah, Sosial dan Hiburan