Sabtu, 28 Mei 2016

TOPENG BLANTEK DI KAMPUNG BETAWI

(STUDI KASUS : SANGGAR SENI “FAJAR IBNU SENA” CILEDUG) 
 
SKRIPSI Fakultas Adab dan Humaniora Dengan Gelar Sarjana Humaniora (S. Hum) An. HAMMATUN AHLAZZIKRIYAH NIM. 1111022000008 KONSENTRASI ASIA TENGGARA PROGRAM STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAMFAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H/ 2016 M.
 
 
BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpualan
Berdasarkan dan hasil penjelasan dan bab-bab sebelumnya dengan berfokus pada judul yang diangkat yaitu  Topeng Blantek Di Kampung Betawi Studi Kasus Sanggar Fajar Ibnu Sena Ciledug, maka dapat ditarik kesimpulan yang dijabarkan dibawah ini.
·                Seni Topeng Blantek bermula dari sebuah kesenian teater rakyat budaya Betawi yang masih tetap bertahan di kota Jakarta. Awal munculnya seni budaya Topeng Blantek pada zaman penjajahan Belanda, sekitar abad 19. Pada zaman penjajahan Belanda, pergelaran Topeng Blantek sering dilaksanakan oleh orang-orang Betawi pada saat malam hari. Pada waktu itu pergelaran Topeng Blantek lebih sering dipertunjukkan, karena pada saat itu belum banyak seni budaya yang lahir. Para pemain Topeng Blantek disebut panjak. Mereka yang memainkan Topeng Blantek pada umumnya adalah orang-orang Betawi. Asal nama Topeng Blantek berasal dari kata Topeng yang artinya sandiwara dan Blaind Teks yang artinya tanpa teks. Jadi setiap orang-orang Betawi dahulu menampilkan pertunjukan sandiwara secara spontas tidak menggunakan teks atau naskah cerita dan terkandung nilai-nilai didalamnya yang bersifat universal.
·                Sanggar Fajar Ibnu Sena yang didirikan oleh Nasir Mupid pada tahun 1983 berada didaerah ciledug Jakarta selatan yang  merupakan wadah atau tempat untuk mengembangkan dan melestarikan serta menjaga kesenian budaya Topeng Blantek. Sanggar Fajar Ibnu Sena terus membina dan memperkenalkan kepada kaum muda tentang seni budaya Topeng Blantek yang harus dipertahankan. Semua kegiatan Fajar Ibnu Sena berbentuk gerakan kebudayaan dan kemanusiaan yang memakai media seni budaya untuk melakukan proses dakwah, pendidikan, sosial, penyadaran, dan pemberdayaan masyarakat. Sasaran utamanya adalah masyarakat dan lingkungan dengan membentuk generasi yang cerdas, edukatif, responsif, inovatif, apresiatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Pada saat Pertunjukan Topeng Blantek berlangsung, setiap alur cerita memiliki unsur dan nilai seperti agama berguna sebagai media dakwah (penerangan) termasuk proses penyebaran Islam dahulunya sampai sekarang, sehingga sangat kental unsur Islamnya baik dari penampilan kostum yang dipakai dari laki-laki memakai peci dan sarung dan bagi perempuan berpakaian tertutup serta berkerudung. Ketika awal pertunjukan dibuka dengan iringan shalawat yang dipadupandankan dengan music rebanakemudian dibuka oleh took Jantuk yang notabene para pendakwah. Serta nilai sosial sebagai media berinteraksi atau bersosialisasi para penonton atau masyrakat, nilai pendidikan sebagai media pembelajaran tentang kehidupan sehari-hari yang lebih baik, nilai hiburan sebagai media penghibur masyarakat atau penonton.
·                Ras Barkah(Asep Subarkah) mempunyai peran penting dalam mengembangkan seni budaya Topeng Blantek ia banyak memberikan pakem-pakem terhadap para pemain yang mau belajar tentang kesenian budaya Betawi yaitu Topeng Blantek. Ia juga memperkenalkan seni Pertunjukan Topeng Blantek kepada para seniman. Ras Barkah merekrut banyak pemain muda, dan tampil di berbagai festival. Ras Barkah pun melakukan  pengembangan kesenian Topeng Blantek ke bentuk yang lebih sempurna, namun tidak meninggalkan keasliannya. Saat era Ras Barkah, kesenian Topeng Blantek sempat tumbuh subur banyak sanggar- sanggar Topeng Blantek menyebar luas ke berbagai daerah. Ras Barkah terus melakukan pengembangan kesenian Topeng Blantek ke bentuk yang lebih sempurna Kesenian Topeng Blantek yang di bawah oleh Ras Barkah ini sempat mencapai masa keemasannya, namun tidak meninggalkan keasliannya. Sedangkan untuk perkembangnya Topeng Blantek mengalami kemunduran karena kurangnyan minat masyarakat akan budayanya sendiri dan akibat perkembangan zaman yang semakin modern. di tengah modernisasi zaman kesenian yang dulu dikenal di kalangan rakyat jelata tersebut saat ini kondisinya hampir punah. Bahkan, keberadaan seniman dan sanggar tari Topeng Blantek boleh dikatakan hidup segan mati tak mau. Sebenarnya kalau masyarakat ingin tahu sejarah kesenian Topeng Blantek, boleh  dikatakan cikal bakal kesenian tradisional Betawi saat ini seperti gambang kromong, samrah, lenong dan lain sebagaianya berawal dari Topeng Blantek. Tapi, minimnya dukungan pemerintah dan sepinya job membuat kesenian Topeng Blantek nyaris tak popular. Oleh karena itu, keeksistensian seni budaya Topeng Blantek tetap ada melalui pertunjukan atau pementasan yang ditampilkan dan para seniman, walaupun hal itu jumlahnya sangat sedikit. Seni Topeng Blantek memiliki asal-usul sejarah dalam masyarakat Betawi. Pada saat awal dibentuknya seni ini merupakan seni hiburan yang diminati masyarakat pada saat itu. Walaupun, pada sekarang ini Topeng Blantek mengalami kemunduran. Kebertahanan Topeng Blantek di Jakarta salah satunya dipengaruhi oleh adanya sanggar Betawi yang berlandaskan pada kesenian tradisional Topeng Blantek. Peran sanggar juga sangat terkait dengan pemiliknya yang merupakan seniman betawi. Seniman Betawi merupakan pelopor penggerak pelestarian terhadap budaya. Akan tetapi, hal tersebut perlu dibantu dan didukung oleh faktor lain.

B.     Saran
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa untaian kata demi kata tidak terlepas dari kealfaan dan kekhilafan. maka dari itu kritik dan saran sangatlah dibutuhkan dalam penulisan ini. Karena dalam tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan- kekurangan penulis menyarankan agar ada lagi yang menggali lebih dalam masalah yang terjadi di Indonesia. Khususnya seni Budaya masyarakat Betawi. Karena masih banyak lagi kajian yang masih belumterulaskan secara menyeluruh.


DAFTAR PUSTAKA
·    Sumber Primer
Wawancara dengan pemimpin Sanggar Fajar Ibnu Sena
Wawancara dengan Abdul Aziz salah satu anggota dari sanggar Fajar Ibnu Sena
Anggota IKAPI, Ensiklopedi Jakarta jilid 7,Jakarta Tempo Doloe, Kini dan Esok”, Jakarta: Lentera Abadi, 2009
Iqbal , Muhammad Zafar, islam di Jakarta Studi Islam dan Budaya Betawi, Disertasi Program Pascasarajana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta: 2002.
·    Sumber Sekunder
a.    Buku
Abdul Azis, Islam dan Masyarakat Betawi,  Jakarta: LP3S, 2002
Abdul Aziz, Apresiasi Seni Budaya Topeng Blantek, Jakarta: Bangkit Anak Negri, 2013
Abdurrahman. Nilai-nilai Budaya dalam Kaba Minangkabau: Suatu Interpretasi Semiotik. Padang : UNP Press. 2011
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 1991
A.Kasim Achmad. Mengenal Teater Tradisional di Indinesia. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta. 2006
Atik Soepandi dkk, Topeng Blantek Betawi, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta : 1993.
Baghdadi Al, Abdurahman. Seni Dalam Pandangan Islam: Seni Vokal, Musik dan Tari, Jakarta: Gema Insani, 1991. Bassam Tibi, kebudayaan dan perubahan social. Yogyakarta: Tiara Wancana Yogya,1999.
Barker, Chris. Cultural Studies. Teori dan Praktek. Yoyakarta: Kreasi Wacana. 2004.
Bramantyo Triyono, DisseminasiMusik Barat di Timur, Studi Historis Penyebaran Musik Barat di Indonesia dan Jepang Lewat Aktivitas Missionaris Pada Abad Ke-16, terj. Emmanuel Kristanto Cahyo, Yogyakarta: YayasanUntuk Indonesia, 2004.
Dahana, Radhar Panca. Homo Theafricus.Magelang: Indonesia Tera. 2000.
Danadjaja,j. Manfaat penelitian folklore Betawi, dalam : Wijaya, H. Seni Budaya Betawi Pra Lokal Karya Penggalian dan Pengembangannya, Dinas Kebudayaan, Jakarta
Djarot, Slamet Rahardjo. Membangun tokoh - Constatin Stanislavski.Jakarta: PT Gramedia. 2008
Eka.The Art OfActing, Seni Peran Untuk Teater, Film & TV.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2003
Endraswara, Surwardi. Metode Pembelajaran Drama.Yogyakarta: CAPS. 2011
Fischer H.Th, Pengantar Anthropologi Kebudayaan Indonesia, terj.Anas Makruf, Jakarta: PT Pembangunan, 1960.
George Ritzer dan Douglas J..Teori Sosiologi Modern.Yogyakarta: Kencana, 2007.
Gustini Heny dan Alfin Muhammad, Studi Budaya Indonesia,Bandung: Cv Pustaka Setia, 2012.
Harymawan.Dramaturgi.Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1993
Harapan Anwarudin, Sejarah, Sastra, dan Budaya Betawi, Jakarta, APPM, 2006.
Herymawan, Dramaturgi.Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1993.
Hoesodoningsih, Rr.Yvonnne Triyoga. Seni Pertunjukan Topeng Betawi Kontinuitas dan Perubahannya. Tesis, FISIP – UI2006
Hariyono, Mempelajari Sejarah Secara Efektif, Yogyakata: Pustaka Jaya, 1995.
Kartodirdjo Sartono, Pendekatan llmu Sosial dalam Metodelogi Sejarah, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Muhadjir, Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2000.
Mukhlis paeni, Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Pertunjukan dan seni Media, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Rahmat Taendiftia Emot et. al, Gado-Gado Betawi : Masyrakat Betawi dan Ragam Budayanya, Jakarta: Grasindo, 1996.
Raga Maran Rafael, Manusiadan Kebudayaan Dalam Persfektif Ilmu Budaya Dasar, Jakarta, RinekaCipta, 2007,
Rachmat, Ruchiat, dkk. (2003). Ikhtisar Kesenian Betawi. Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.
R. Brandon, James. Jejak-Jejak Seni Pertunjukan Di Asia Tenggara, (Terj). Bandung: P4ST UPI, 2003.
R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, jilid ke-3, Jakarta: Kansius, Yogyakarta, 1973.
Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi,  Asal Muasal, Kebudayaan dan Adat Istiadatnya, PT Gunara Jakarta: Jakarta, 2001
Ruchiat, Rahmat. Asal Usul Jakarta.Jakarta: Kepala Diknas Kebudayaan DKI. 1991
Rohaedi Ayat. Tarumanegara dalam Sejarah Jawa Barat dari Masa Prasejarah hingga Masa Penyebaran Agama islam. Bandung : proyek Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat, 1975
Sitorus, Eka.The Art OfActing, Seni Peran Untuk Teater, Film & TV.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2003
Sastrapraja, Nurhadi. Ragam Budaya Betawi. Jakarta: Kepala Diknas Kebudayaan DKI. 2002.
Sedyawati, Edi. Seni Pertunjukan. Jakarta : PT. Widyadara,2002
________, Sapardi Djoko Damono, Seni Dalam Masyarakat Indonesia Bunga Rampai, Jakarta: PT. Gramedia, 1983.
Shahab Yasmine Z, Konflik Identitas:Etnis dan Religi, dalam Identitas
dan Otoritas Rekontruksi Tradisi Betawi (Depok, Laboratorium
Antropologi FISIP UI, 2004
Sjahrial.Seni Budaya Betawi. Jakarta: Kepala Diknas Kebudayaan DKI. 2000
Sudarsono Jowono. Nasionalisme dan Ketahanan Budaya di Indonesia, Jakarta: LIP PRESS, 2011.
Sudarsono R.M, Pengantar Apresiasi seni, cet-I, Jakarta: Balai Pustaka, 1992
Sugimun, Jakarta Dari Tepian Air Ke Kota proklamasi, Jakarta: Dinas Museum dan Sejarah Jakarta, 1988
Sumardjo, Jakob. Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung: STSI Press, 2004
Suanda, endo. Topeng. Jakarta : LPSN, 2004
Sulisto Budi.Metode Penelitian Sejarah Sebuah Pengantar, Jakarta: Yayasan Sarwa Saidi Ridwan. Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, LSIP: Jakarta, 1994.
Surwardi Endraswara. Metode Pembelajaran Drama.Yogyakarta: CAPS. 2011
Soedarsono. Beberapa Catatan tentang Seni Pertunjukkan Indonesia. Yogyakarta: Konservatori Tari Indonesia.
Tim Peneliti Kebudayaan Betawi FIB UI, Rupa Gaya Ras Betawi, cetakan I, Jakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, 2012.
____________________________, Ragam Seni Budaya Betawi, cetakan I, Jakarta:  Fakultas Ilmu Pengtahuan Budaya Universitas Indonesia, 2012.
Yudiaryani, Panggung Teater Dunia.Purwoharjo, Samigaluh: Pustaka Gondho Suli. 2002.
Yuliadi, Koes. Drama Gong di Bali. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta, 2005
Zafar Iqbal Muhammad, Islam di Jakarta Studi Sejarah Islam dan Budaya Betawi, Jakarta : Disertasi Program Pasca Sarjana IAIN, tidak diterbitkan 2002
Zuriah Nurul. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspek Perubahan. Jakarta: Burni Aksara, 2008.

b.   Majalah dan Artikel
HTN Alat Pertanian Article “Panjak” http://htn-alatpertanian.blogspot.com/201 1/03/panjak
Wikipedia Article “Pantun” http://kLwikipedia.org/wiki/Pantun
Wikipedia Article“Gedung Kesenian Jakarta
Muluk, taufik, Aneka Ragam Kesenian Jakarta, Harian Indonesia Raya, Selasa 3 November 1973
Journal On-line, Topeng Blantek. Tersedia di web  http://budaya-indonesia.org/Topeng-Blantek-1/
c.    Sumber elektronik
http://www.jakarta.go.id/v2/news/2014/03/budaya-dan-warisan-sejarah

TOPENG BLANTEK DI KAMPUNG BETAWI

(STUDI KASUS : SANGGAR SENI “FAJAR IBNU SENA” CILEDUG) 
 
SKRIPSI Fakultas Adab dan Humaniora Dengan Gelar Sarjana Humaniora (S. Hum) An. HAMMATUN AHLAZZIKRIYAH NIM. 1111022000008 KONSENTRASI ASIA TENGGARA PROGRAM STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAMFAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H/ 2016 M.
 
A.  Kondisi perkembangan Seni Topeng Blantek saat sekarang
Sebagai suku asli di Jakarta, Betawi sangat kaya akan seni dan budaya. Namun, tidak semua kesenian Betawi dikenal masyarakat secara luas, termasuk seni Topeng Blantek. Padahal, jauh sebelum kesenian tradisional Betawi seperti gambang kromong, lenong dan lain sebagainya dikenal masyarakat, Topeng Blantek sudah lebih dulu hadir di tengah-tengah masyarakat Betawi. Ciri dari kesenian Topeng Blantek yaitu terdapat tiga buah sundung (kayu yang dirangkai berbentuk segi tiga yang biasa digunakan untuk memikul sayuran, rumput dan lain sebagainya).
Namun, di tengah modernisasi zaman kesenian yang dulu dikenal di kalangan rakyat jelata tersebut saat ini kondisinya hampir punah. Bahkan, keberadaan seniman dan sanggar tari Topeng Blantek boleh dikatakan hidup segan mati tak mau. Ia mengakui, sejak adanya kesenian-kesenian tradisional Betawi lainnya seperti Lenong, Topeng Betawi, Samrah, Gambang Kromong dan lain sebagainya, kesenian Topeng Blantek makin surut pamornya dan akhirnya hilang sama sekali. Saking lamanya kehadiran Topeng Blantek Marhasan tidak tahu kapan kesenian rakyat itu ada. Marhasan yang sejak 1972 malang melintang di Teater Maki-Maki pimpinan Patrick Usman, Sanggar si Barkah dan lainnya hingga 1982 bersama almarhum Usman juga turut mendirikan sanggar Topeng Blantek Pangker Group karena kecintaannya pada kesenian asli Betawi tersebut.[1]
Namun sepeninggalnya Ras Barkah pada 2007, upaya melestarikan Topeng Blantek mulai terkendala modal dan sulitnya mencari generasi penerus dan diperparah dengan tak adanya perhatian dari pemerintah untuk turut melestarikan kesenian Topeng Blantek. Akibatnya, satu-persatu sanggar-sanggar tersebut berguguran. Hingga saat ini untuk wilayah Jakarta Barat saja hanya tersisa empat sanggar. “Dari empat sanggar tersebut dua sanggar boleh dibilang hidup segan mati tak mau. Sebab anggotanya sudah tak tahu ke mana rimbanya,” tutur Marhasan.[2] Nasib yang tidak jauh berbeda juga saat ini dialami sanggar yang dipimpinnya yang bermarkas di Jalan Pangkalan Kramat, RT 01/10, Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, yang beranggotakan 30 orang. Tak adanya modal membuat sanggarnya kesulitan membeli perangkat alat musik baru untuk menggantikan alat yang lama hasil pemberian Sudin Kebudayaan Jakarta Barat. Ditambah kurangnya minat generasi muda, khususnya keturunan Betawi untuk melestarikan budayanya praktis membuat sanggarnya sepi job.
Daya tawar pada seni dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. Jika dibandingikan dinamika sosial suatu masyarakat yang berubah sangat membawa pengaruh pada kesenian tradisional. Pada masyarakat modern, kebutuhan akan hidup semakin ke arah modern. Masyarakat modern sudah berpola pikir semakin maju, karena zaman yang semakin canggih. Modernisasi yang terjadi pada masyarakat mempengaruhi keberadaan kesenian tradisional. Pada tahap yang lain dapat berdampak runtuhnya kesenian tradisional. Hal itu terjadi, karena pada dasarnya nuansa modern lebih melihat sisi ke arah masa depan yang semakin berubah. Kesenian tradisional merupakan hal-hal yang sifatnya ketinggalan atau dianggap masih tradisional. Hal tersebut juga sama dengan seni budaya Topeng Blantek yang dianggap tergolong kebudayaan tradisional. Hal itu karena seni Topeng Blantek adalah suatu bentuk hasil dari ide dan karya masyarakat Betawi terdahulu. Terdahulu merupakan kata yang identik tradisional.
Kebudayaan tradisional sejatinya merupakan corak yang menjadi khas pada suatu daerah atau bangsa tertentu. Namun, kondisi masyarakat lebih senang pada sebuah budaya yang sifatnya modern. Hal itulah yang menyebabkan adanya dinamika sosial pada masyarakat terhadap kesenian. Masyarakat disatu sisi tertarik akan budaya-budaya baru yang menyenangkan karena sebagai hiburan. Budaya-budaya luar saat ini masuk secara terbuka dan mudah masyarakat untuk menyaksikannya serta dapat dilihat melalui media masa seperti televisi dan internet. Masyarakat pada konteks saat ini lebih cenderung ingin berubah sesuai dengan zamannya.[3]Perubahan yang terjadi secara luas telah berdampak pada ketidatertarikan masyarakat pada seni budaya tradisional, salah satunya Topeng Blantek ini. Dinamika sosial ini menjadi sebuah bagian dalam kehidupan berkesenian. Kondisi masyarakat Betawi yang tidak peduli atau kurang perhatian terhadap budayanya menunjukkan realitas masyarakat Betawi saat ini. Pada dasarnya masyarakat mengalami evolusi budaya, yaitu perubahan secara besar pada budaya yang terjadi pada masyarakat, khususnya masyarakat Betawi. Perubahan tersebut berdampak pada seni budaya lokal. Oleh sebab itu, dinamika sosial pada masyarakat modern berpengaruh pada keberadaan seni budaya Topeng Blantek yang terjadi di kota besar.
Dunia saat ini sedang mengalami sebuah proses yang dinamakan dengan Globalisasi. Globalisasi merupakan sebuah proses yang saling berhubungan antara siapapun tidak terbatas oleh bidang tertentu. George Ritzer menjelaskan bahwa “Globalisasi kebudayaan adanya sebuah proses hubungan antara budaya lokal dalam dengan global.”[4] Global adalah sesuatu yang sifatnya berasal dari luar bukan lokal. Salah satunya adalah budaya yang berasal dari luar. Hubungan antara kesenian tradisional dengan budaya luar memiliki perbedaan.
Fenomena tersebut dapat mempengaruhi pada terpinggirkannya kesenian tradisional karena globalisasi dapat berpengaruh terhadap pelemahan budaya-budaya lokal, seperti seni budaya Topeng Blantek. Pelemahan tersebut berdampak pada menurunnya kepedulian masyarakat Betawi terhadap budaya lokal. Globalisasi juga membawa perubahan tingkatan dalam masyarakat terutama di Jakarta. Perubahan ini dapat membawa masyarakat yang menuju pada arah menjadi sebuah masyarakat modern. Arus globalisasi dan modernisasi yang semakin tinggi membuat pergeseran pada kalangan masyarakat Betawi di Jakarta.
Pergeseran ini semakin membuat kalangan masyarakat Betawi sekarang menjauhi seni budaya tradisionalnya. Tradisional yang identik dengan keterbelakangan sudah menjadi sesuatu istilah yang ketinggalan zaman. Masyarakat modern lebih menerima respon budaya modern. Hal tersebut berdampak pada seni budaya Topeng Blantek yang tradisional semakin terpinggirkan oleh masyarakat karena globalisasi membawa perubahan pada masyarakat, khususnya masyarakat Betawi termasuk yang ada di wilayah budaya Betawi (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).
Zaman modern juga berdampak pada keberadaan kesenian tradisional bukan hanya Topeng Blantek, akan tetapi bisa semua. Kemerosotan seni Topeng Blantek secara terbuka juga karena faktor modernisasi budaya akibat globalisasi. Dan dikhawatirkan lambat laun kesenian tradisional akan tergerus dan semakin hilang.”[5]
Adanya kontstelasi juga disebabkan oleh faktor kapitalis sebagai pemilik modal yang memanfaatkan adanya globalisasi dan modernisasi pada kebudayaan yang mengedepankan sisi materialis, sehingga berdampak pada budaya tradisional seperti Topeng Blantek yang semakin redup. Akibat dari hal itu membawa dampak pada kehidupan para seniman yang mayoritas kelas menengah kebawah semàkin tertindas.
Padahal seni budaya Topeng Blantek adalah seni tradisional masyarakat kaum Betawi yang memiliki sebuah nilai. Kesenian Betawi yang berasal dari karya masyarakat Betawi terdahulu. Dalam pertunjukan seni budaya Topeng Blantek tetap menggunakan alat musik sederhana, seperti rebana biang dan gong. Alat-alat musik tersebut masih tergolong sebagai alat musik tradisional. Kesenian tradisional Betawi ini telah pada taraf hampir menghilang. Kehidupan zaman modern membawa masyarakat pada arah modernisasi.
Menurut Suryono Soekanto bahwa “Modernisasi adalah suatu proses perubahan yang menuju pada sistem-sistem sosial budaya yang telah berkembang.”[6]Salah satunya pada seni budaya, mayonitas masyarakat sekarang lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat glamor dan modern, seperti Iebih tertarik untuk menonton konser-konser band yang cenderung ke arah hedonisme. Akan tetapi, melihat kesenian budaya sendiri tidak tertarik karena dianggap kuno dan tradisionalis.
Sekarang ini orang lebih senang melihat tontonan band-band artis top, karena lebih asyik. Daripada nonton kesenian budaya sendiri seperti Topeng Blantek ini yang masih dianggap kuno dan bahkan ketinggalan zaman. Apalagi sekarang zaman semakin modern,  orang-orang lebih senang hal-hal yang modern daripada tradisional, kaya budaya topeng belantek ini.[7]
Seni Topeng Blantek yang berlatar belakang tradisional harus bersaing dengan budaya-budaya modern. Daya tawar pada seni Topeng Blantek membuat kesenian ini dapat bertahan. Daya tawar yang diberikan pada seni budaya Topeng Blantek yaitu nilai. Konsep daya tawar pada seni tersebut menjelaskan bahwa ada sesuatu yang ditawarkan atau diberikan untuk masyarakat. Sesuatu yang ditawarkan tidak hanya sekedar sebuah pertunjukan. Nilai dari proses pemaknaan sosial yang menjadi bagian utama dalam kesenian dikarenakan pertunjukan Topeng Blantek dapat merosot maupun berkembang. Nilai pada seni juga dapat ditambah dari segi kostum, peralatan musik, dan dialog cerita yang terkadang menggunakan bahasa Inggris.
Nilai-nilai yang bersifat pendidikan dan dakwah yang menjadi bagian dan daya tawar pada sebuah seni budaya Topeng Blantek. Daya tawar akan mengarah pada keeksistensian seni Topeng Blantek.
Bertahannya kesenian-kesenian di kota besar menunjukkan bahwa seni memiliki daya tawar. Daya tawar yang membuat seni dapat bertahan juga harus dapat didukung oleh faktor lain. Bagi para seniman bertahannya seni budaya di kota Jakarta membuktikan bahwa masih ada masyarakat yang peduli dan perhatian terhadap seni tersebut. Jadi daya tawar pada sebuah seni dilihat pada nilai-nilai yang terkandung dalam seni budaya tersebut. Walaupun pada dasarnya seni Topeng Blantek dapat berkembang.
Seni budaya Topeng Blantek yang bersifat tradisional dan terbentuk juga pada saat dahulu. Para seniman sanggar seni budaya Topeng Blantek sendiri jumlahnya cukup sedikit dan akan punah jika tidak pernah ada pertunjukan. Pertunjukan atau pergelaran merupakan sebuah cara untuk menunjukkan bahwa seni budaya ini masih ada. Jadi dilihat secara luas pengaruh globalisasi dan modernisasi sekarang ternyata memberikan dampak bagi seni budaya Topeng Blantek.
Seni budaya Topeng Blantek adalah sebuah kesenian tradisional yang ada di Jakarta. Globalisasi dan modernisasi mempengaruhi kesenian budaya lokal. Walaupun, masyarakat kota Jakarta berubah menjadi modern dan maju, akan tetapi para seniman tetap mempertahankan kesenian tradisional Topeng Blantek. Kesenian budaya Topeng Blantek yang merupakan bagian dan salah satu teater Betawi yang memiliki nilai-nilai sosial yang terkandung. Dalam hal ini nilai yang terkandung pada pementasan kesenian Topeng Blantek yaitu religius dan sosial. Pada pola pendidikan pementasan kesenian Topeng Blantek terbentuk pada beberapa unsur. Pementasan dilakukan oleh para seniman dan pemain yang memiliki modal pada budaya. Modal budaya pada para pemain terdiri dari keterampilan, memiliki ilmu pengetahuan pada seni, dan mengajarkan sebuah nilai yang menjadi tuntunan. Aspek tersebut merupakan modal dalam rnenampilkan pertunjukan kesenian Topeng Blantek. Pertunjukan Topeng Blantek juga menjadi bagian metode pembelajaran. Meskipun, dalam pementasan seni budaya Topeng Blantek diselenggarakan oleh pihak masyarakat dan pemerintah.
Dalam transformasi nilai dilakukan dengan cara penampilan pementasan seni Topeng Blantek. Transformasi nilai tersebut ditujukan untuk para penonton yang melihat acara kesenian Topeng Blantek. Penonton dapat memaknai nilai tersebut berdasarkan penafsiran. Transformasi nilai termasuk dalam ranah proses pembelajaran karena salah satu pembelajaran yang diberikan adalah pemberian nilai-nilai yang diajarkan pada seni. Dalam seni Topeng Blantek nilai dispesifikasi menjadi nilai agama dan sosial. Daya tawar pada kesenian Topeng Blantek terkandung yaitu pada nilai yang diberikan saat penampilan pementasan Topeng Blantek. Pementasan seni Topeng Belantek merupakan cara untuk mempertahankan eksistensi kesenian tradisional Topeng Belantek. Kesenian Topeng Belantek adalah sebuah produk perilaku sosial dan komunitas betawi.Perilaku yang menunjukan unsur nilai khas masyarakat Betawi. Kesenian topeng belantek merupakan bagian dan identitas masyarakat Betawi. Kebertahanan topeng belantek dsebabkan oleh para seniman yang peduli akan senibudaya tradisional. Sanggar ini adalah sanggar seni topeng Belantek yang masih mempertahankan kesenian tersebut. Selain itu, sanggar memiliki peran lain yaitu untuk tempat interaksi berkumpulnya para warga.
Dengan demikian, seluruh masyarakat bertanggung jawab dalam menjaga pelestarian Topeng Blantek demi menuju masyarakat yang menjunjung budaya tradisional(lokal) menjadi bagian dari budaya nasional. Dengan cara memperbanyak pembinaan, pengembangan dan pelestarian budaya tradisional dan membawanya kepentas internasional.


       [1] dikutip dari berita Seputar Betawi News Seni Budaya, Topeng Blantek Kesenian Betawi yang Nyaris Punah Sabtu, 11 Januari 2014 http://seputarbetawinews.blogspot.com/2014/01/seni-budaya.html di akses pada 17 september 2015 02:30
       [2] Marhasan adalah seorang tokoh seni dari pemimpin sanggar pangker group pengganti alm Ras Barkah.
      [3] Dikutip dari catatan Abdul Aziz https://catatanabdulaziz.wordpress.com/2013/10/10/daya-tawar-seni-topeng-blantek/  di akses pada 16 oktober 2015 12:45
        [4] Goerge Ritzerdan Douglas J. Goodman, 2007. Teori Sosiologi Modern. Yogyakarta:Kencana.2007. Hal 634
        [5] Hasil Wawancara, Abdul Aziz, Topeng Blantek Fajar Ibnu Sena, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 18 Desember 2015
       [6]Suryono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali, 1992, Hal 383
        [7] Hasil Wawancara, Nasir Mupid, Topeng Blantek, Fajar Ibnu Sena, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 05 desember  2015